Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki posisi strategis di kawasan Asia-Pasifik. Dalam konteks geopolitik ini, hubungan dengan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, sering kali menjadi bahan diskusi. Baru-baru ini, Ketua sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyarankan agar Indonesia mulai mengurangi ketergantungannya terhadap Amerika Serikat dalam urusan internasional. Rekomendasi ini datang seiring dengan dinamika global yang terus berubah, di mana negara-negara diharapkan semakin mandiri dalam mengambil keputusan strategis.
Menilik Posisi Indonesia di Kancah Global
Sejak era kemerdekaan, Indonesia telah menegaskan kebijakan politik luar negeri bebas dan aktif. Artinya, Indonesia tidak ingin terjebak dalam blok politik atau militer tertentu, tetapi lebih memilih untuk aktif dalam perdamaian dunia. Meskipun Amerika Serikat adalah salah satu mitra dagang dan investasi terbesar Indonesia, kebijakan bebas-aktif mengharuskan Indonesia untuk menjalin hubungan diplomatik yang seimbang dengan negara-negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir, Asia Tenggara, dan khususnya Indonesia, semakin terlibat dalam persaingan pengaruh antara AS dan China. Hal ini membuat posisi Indonesia menjadi semakin penting dalam konfigurasi geopolitik Asia.
FPCI: Anjuran Kebebasan Ekonomi
FPCI menekankan pentingnya diversifikasi mitra ekonomi dan diplomatik Indonesia. Mengurangi ketergantungan pada ekonomi Amerika bisa berarti menjajaki lebih banyak kerja sama dengan ekonomi negara berkembang lainnya. Dalam konteks perdagangan dan investasi, penguatan hubungan dengan negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) atau membina hubungan yang lebih erat dengan sesama anggota ASEAN dapat menjadi pilihan strategis. Membangun pijakan ekonomi yang lebih beragam akan membantu Indonesia mengurangi risiko terguncangnya ekonomi domestik jika ada perubahan kebijakan dari AS, semisal tarif atau kebijakan perlindungan lainnya.
Keamanan dan Teknologi: Tantangan dan Peluang
Pada sektor keamanan, Indonesia sudah sejak lama bergantung pada alutsista buatan Amerika Serikat. Namun, ketergantungan ini juga bisa diartikan sebagai celah dalam kemandirian teknologi pertahanan nasional. Memproduksi atau bermitra dengan negara lain dalam pengembangan alutsista lokal bisa menjadi langkah selanjutnya bagi Indonesia. Demikian pula dalam sektor teknologi informasi. Ketergantungan Indonesia pada teknologi AS harus dibarengi dengan investasi besar dalam inovasi teknologi dalam negeri atau kolaborasi dengan negara-negara yang memiliki visi teknologi sejalan.
Menjaga Keberlanjutan Hubungan Multilateral
Selalu penting untuk diingat bahwa hubungan diplomatik tidak hanya berkaitan dengan satu negara besar tertentu. Indonesia, sebagai salah satu penggerak utama ASEAN, perlu memastikan agar hubungan multilateral tetap berjalan harmonis. Mengurangi ketergantungan pada satu negara bukan berarti memutus hubungan, melainkan memastikan bahwa hubungan tersebut tetap berada dalam kerangka yang saling menguntungkan dan adil. Oleh karena itu, inovasi politik luar negeri Indonesia perlu bekerja sama dalam kerangka multilateral untuk mengatasi tantangan regional dan global.
Peluang dan Tantangan di Masa Depan
Mengurangi ketergantungan pada AS membuka peluang bagi Indonesia untuk menggali kerjasama baru dengan berbagai negara, khususnya dalam ranah ekonomi digital dan energi terbarukan. Namun, langkah ini juga diiringi tantangan, terutama dalam penyesuaian kebijakan domestik dan upaya mitigasi risiko geopolitik. Keberhasilan strategi ini bergantung pada bagaimana Indonesia mampu mengelola hubungan luar negeri yang berimbang dan bertanggung jawab, sembari terus meningkatkan kapabilitas dalam negeri.
Pandangan FPCI menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana Indonesia harus memposisikan diri dalam tata dunia baru, di mana kemandirian dan kebijakan luar negeri yang bijak menjadi kunci utama. Dalam kesimpulannya, Indonesia diharapkan tidak hanya bergantung pada satu aliansi atau kekuatan besar, tetapi juga memperkuat fondasi untuk berdiri sendiri di panggung dunia. Dengan demikian, Indonesia dapat terus memainkan peran kunci dalam diplomasi global dan pengembangan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan stabil.

